Memang tepat, adanya sarana transportasi yang memadai telah memberikan dampak positif bagi masyarakat untuk mengangkut muatan barang maupun penumpang. Aktivasi infrastruktur transportasi di berbagai wilayah Indonesia esensinya untuk menggerakkan ekonomi dan pemerataan pembanguan, terlebih di wilayah afirmasi. Di Papua dan Papua Barat, biaya untuk membeli bahan-bahan pokok cukup tinggi karena berbagai faktor, salah satunya sulitnya akses ke daerah tujuan. Meskipun kaya dengan sumberdaya alam, wilayah ini tertinggal dengan provinsi lain. Jumlah penduduk hidup di bawah garis kemiskinan 25 persen dari populasi. Dua kali lipat lebih dari angka nasional yang sebesar 10,7 persen (BPS, Maret 2017).
“Jika infrastrukturnya bagus, jalan dan pelabuhan bagus, maka ekonomi Papua akan tumbuh lebih cepat karena distribusi logistik untuk barang dan orang meningkat,” kata Presiden saat melakukan kunjungan ke Papua pada tahun 2015.
Faktanya, jalan raya Trans Papua berhasil dibangun, beberapa pelabuhan pun turut lahir di tapal batas negeri. Sahut riang warga dengan kemajuan transportasi yang ada menjadi hal yang terus memacu Kementerian Perhubungan untuk terus bergerak menembus batas-batas negeri, dengan gerbong yang dibawa untuk menggerakkan sektor riil dan industri. Untuk mencapai cita-cita menjadi poros maritim dunia, infrastruktur laut menjadi salah satu prioritas agar masyarakat di sekitarnya kian makmur.
Secara khusus, Kemenhub berfokus pada peningkatan kemakmuran pembangunan di daerah terpencil dan terluar, dengan terciptanya konektivitas antarwilayah sesuai target Nawa Cita presiden Jokowi.
Pembangunan infrastruktur memiliki dampak besar bagi kegiatan ekonomi daerah. Contohnya, pembangunan Bandar Udara (Bandara) Rembele di Aceh Tengah. Perpanjangan landasan pacu bandara tersebut, mampu menampung pesawat jet berbadan besar dan ini akan mengurangi tingginya biaya angkutan udara. Potensi aktivitas perdagangan dari Aceh Tengah akan meningkat, dan begitu pula dengan jumlah kunjungan wisatawan ke kabupaten penghasil kopi unggulan tersebut. Selain itu, penanganan terjadinya bencana alam di daerah rawan bencana akan semakin mudah dan lancar.
Seperti yang telah disampaikan oleh presiden pada Sidang Tahunan MPR 2019, seiring dengan pembangunan bandara baru, konektivitas antarwilayah juga diwujudkan dengan pengembangan dan pembangunan pelabuhan-pelabuhan baru, jalur rel, sarana dan prasarana transportasi darat serta berbagai kebijakan yang bertujuan agar peningkatan dan pelayanan transportasi menjadi lebih baik.
Hingga Oktober 2019, sebanyak 83 terminal telah direhabilitasi, 24 pelabuhan penyeberangan telah dibangun, 45 lokasi stasiun kereta berhasil dibangun, 118 pelabuhan non komersial telah berdikari di penjuru negeri, bahkan 17 kapal penyeberangan telah beroperasi, mengantarkan masyarakat dari pulau terluar menuju daerah lainnya. Semua berkat komitmen pemerintah bersama Kementerian Perhubungan yang menjadi corong utama terealisasinya janji kemerdekaan ini. Adanya tol laut dan pengintegrasian mode transportasi logistik semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, dalam upaya menurunkan harga berbagai bahan pokok di wilayah terluar.
Tentunya, berbagai pencapaian yang telah ditorehkan Kementerian Perhubungan ini perlu dilanjutkan pada kabinet jilid 2 tahun 2019-2024, terlebih untuk benar-benar membuka akses di tapal batas negeri. Ibarat alang berjawab, tepuk berbatas, ketika ada kebaikan yang dilakukan, akan terlahir kebaikan selanjutnya. Ketika konektivitas transportasi semakin nyata tercipta, semoga pemerataan pembangunan pun membuat warga kian sejahtera.
Terima kasih Kemenhub, semoga inovasi layanan transportasi di berbagai penjuru negeri semakin menyatukan tiap wilayah menuju Indonesia maju. Termasuk semakin intensifnya Kemenhub dalam memberikan informasi kepada masyarakat akan pentingnya mendukung program pembangunan infrastruktur ini, melalui kanal instagram @kemenhub151 dan website www.dephub.go.id. Seiring kemajuan konektivitas transportasi di berbagai wilayah, semoga masyarakat juga makin teredukasi agar lebih bijak menggunakan fasilitas yang ada.
Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti Blogger Writing Competition 2019 yang diadakan oleh Kementerian Perhubungan. Gambar dan infografis adalah hasil olahan penulis.
Referensi:




